Batik Cirebonan

2 10 2009

Keunggulan Batik Trusmi Cirebon
Senin, 28 Juli, 2008 oleh Komarudin Kudiya

Pada even pameran batik di Jakarta maupun di kota lain seringkali
pengunjung menanyakan kepada saya “Apa sih keunggulan batik Trusmi
atau batik Cirebonan dibanding dengan batik-batik yang berasal dari
daerah lain?”.

Menurut pendapat saya bahwa pada dasarnya batik-batik yang dihasilkan
oleh sentra-sentra kerajinan batik di berbagai daerah pada umumnya
bagus-bagus serta memiliki corak motif batik yang beragam. Dengan
demikian sifat khas dan keunikan batik-batik daerah tersebut tidak
bisa dikatakan batik yang satu lebih baik dari daerah lainnya.
Keunikan motif serta corak yang dihasilkan dari batik-batik di
berbagai daerah merupakan kekuatan dan kekayaan yang sangat luar
biasa, khususnya bagi kebudayaan batik Indonesia.

Belum ada di negara manapun yang memiliki kekayaan desain motif batik
seperti yang di miliki oleh bangsa Indonesia. Yang sangat membanggakan
kita semua adalah, pada tiap-tiap daerah memiliki desain serta
motif-motif yang khas dengan penamaan motif yang menggunakan bahasa
daerahnya masing-masing. Misalnya saja motif batik dari Aceh ada Pintu
Aceh, Cakra Doenya, Bungong Jeumpa. Dari Riau ada Itik Pulang Petang,
Kuntum Bersanding, Awan Larat dan Tabir. Batik dari Jawa diantaranya
Jelaprang (Pekalongan) , Sida Mukti, Sida Luhur (Solo), Patran Keris,
Paksinaga Liman, Sawat Penganten (Cirebon), dll.

Untuk mengetahui tentang bukti banyaknya kekayaan desain motif-motif
batik Indonesia contoh yang paling sederhana bisa dilihat di wilayah
Jawa Barat, di wilayah ini terdapat puluhan sentra batik diantaranya
dari wilyah paling Timur ada Cirebon, wilayah bagian Utara ada
Indramayu, kemudian ke arah bagian Barat dan Selatan terdapat
Kabupaten Ciamis, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Kabupaten Garut.
Walaupun masih dalam satu propinsi dan kultur budaya yang sama (budaya
Sunda), namun bisa kita temui adanya perbedaan motif dan ragam hias
batik yang jauh berbeda antara satu kabupaten dengan kabupaten
lainnya. Seperti pada daerah Cirebon dengan Indramayu memiliki
karakter dan desain motif yang berbeda, terlebih lagi antara daerah
Cirebon dan Garut memiliki perbedaan motif, corak serta ragam hias
yang sangat signifikan perbedaannya. Perbedaan itu dipengaruhi oleh
kultur budaya dan tingkat keahlian dari para pengrajin batiknya.
Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat batik relatif sama baik dari
bentuk canting, bentuk cap maupun jenis lilinnya. Namun ketika proses
produksi berjalan ada kalanya kondisi unsur air tanah dengan kualitas
PH yang berbeda-beda bisa mempengaruhi hasil pewarnaan akhir. Demikian
pula dengan sifat kesabaran dan keuletan pengrajin batik di tiap-tiap
daerah, juga akan bisa mempengaruhi kualitas akhir batik yang
dihasilkannya.

Daerah sentra produksi batik Cirebon berada di desa Trusmi Plered
Cirebon yang konon letaknya di luar Kota Cirebon sejauh 4 km menuju
arah barat atau menuju arah Bandung. Di desa Trusmi dan sekitarnya
terdapat lebih dari 1000 tenaga kerja atau pengrajin batik. Tenaga
kerja batik tersebut berasal dari beberapa daerah yang ada di sekitar
desa Trusmi, seperti dari desa Gamel, Kaliwulu, Wotgali dan
Kalitengah.

Secara umum batik Cirebon termasuk kedalam kelompok batik Pesisiran,
namun juga sebagian batik Cirebon termasuk dalam kelompok batik
keraton. Hal ini dikarenakan Cirebon memiliki dua buah keraton yaitu
Keratonan Kasepuhan dan Keraton Kanoman, yang konon berdasarkan
sejarah dari dua keraton ini muncul beberapa desain batik Cirebonan
Klasik yang hingga sekarang masih dikerjakan oleh sebagian masyarakat
desa Trusmi diantaranya seperti motif Mega Mendung, Paksinaga Liman,
Patran Keris, Patran Kangkung, Singa Payung, Singa Barong, Banjar
Balong, Ayam Alas, Sawat Penganten, Katewono, Gunung Giwur, Simbar
Menjangan, Simbar Kendo dan lain-lain.

Beberapa hal penting yang bisa dijadikan keunggulan atau juga
merupakan ciri khas yang dimiliki oleh batik Cirebon adalah sbb:

a. Desain batik Cirebonan yang bernuansa klasik tradisional pada
umumnya selalu mengikut sertakan motif wadasan (batu cadas) pada
bagian-bagian motif tertentu. Disamping itu terdapat pula unsur ragam
hias berbentuk awan (mega) pada bagian-bagian yang disesuaikan dengan
motif utamanya.

b. Batik Cirebonan klasik tradisional selalu bercirikan memiliki warna
pada bagian latar (dasar kain) lebih muda dibandingkan dengan warna
garis pada motif utamanya.

c. Bagian latar atau dasar kain biasanya nampak bersih dari noda hitam
atau warna-warna yang tidak dikehendaki pada proses pembuatan. Noda
dan warna hitam bisa diakibatkan oleh penggunaan lilin batik yang
pecah, sehingga pada proses pewarnaan zat warna yang tidak dikehendaki
meresap pada kain.

d. Garis-garis motif pada batik Cirebonan menggunakan garis tunggal
dan tipis (kecil) kurang lebih 0,5 mm dengan warna garis yang lebih
tua dibandingkan dengan warna latarnya. Hal ini dikarenakan secara
proses batik Cirebon unggul dalam penutupan (blocking area) dengan
menggunakan canting khusus untuk melakukan proses penutupan, yaitu
dengan menggunakan canting tembok dan bleber (terbuat dari batang
bambu yang pada bagian ujungnya diberi potongan benang-benang katun
yang tebal serta dimasukkan pada salah satu ujung batang bambu).

e. Warna-warna dominan batik Cirebonan klasik tradisional biasanya
memiliki warna kuning (sogan gosok), hitam dan warna dasar krem, atau
berwarna merah tua, biru tua, hitam dengan dasar warna kain krem atau
putih gading.

f. Batik Cirebonan cenderung memilih sebagian latar kainnya dibiarkan
kosong tanpa diisi dengan ragam hias berbentuk tanahan atau rentesan
(ragam hias berbentuk tanaman ganggeng). Bentuk ragam hias tanahan
atau rentesan ini biasanya digunakan oleh batik-batik dari Pekalongan.

Masih dengan batik Cirebonan, namun mempunyai ciri yang berbeda dengan
yang sebelumnya yaitu kelompok batik Cirebonan Pesisiran. Batik
Cirebonan Pesisiran sangat dipengaruhi oleh karakter masyarakat
pesisiran yang pada umumnya memiliki jiwa terbuka dan mudah menerima
pengaruh budaya asing. Perkembangan pada masa sekarang, pewarnaan yang
dimiliki oleh batik Cirebonan lebih beraneka warna dan menggunakan
unsur-unsur warna yang lebih terang dan cerah, serta memiliki bentuk
ragam hias yang bebas dengan memadukan unsur binatang dan
bentuk-bentuk flora yang beraneka rupa.

Pada daerah sekitar pelabuhan biasanya banyak orang asing yang
singgah, berlabuh hingga terjadi perkawinan etnis yang berbeda
(asimilasi), maka batik Cirebonan Pesisiran lebih cenderung menerima
pengaruh budaya dari luar yang dibawa oleh pendatang. Sehingga batik
Cirebon yang satu ini lebih cenderung untuk bisa memenuhi atau
mengikuti selera konsumen dari berbagai daerah (lebih kepada pemenuhan
komoditas perdagangan dan komersialitas) , sehingga warna-warna batik
Cirebonan Pesisiran lebih atraktif dengan menggunakan banyak warna.
Produksi batik Cirebonan pada masa sekarang terdiri dari batik Tulis,
batik Cap dan batik kombinasi tulis cap. Pada tahun 1990 – 2000 ada
sebagian masyarakat pengrajin batik Cirebonan yang memproduksi kain
bermotif batik Cirebonan dengan teknik sablon tangan (hand printing),
namun belakangan ini teknik sablon tangan hampir punah, dikarenakan
kalah bersaing dengan teknik sablon mesin yang dimiliki oleh
perusahaan-perusaha an yang lebih besar. Pertumbuhan batik Trusmi
nampak bergerak dengan cepat mulai tahun 2000, hal ini bisa dilihat
dari bermunculan showroom-showroom batik yang berada di sekitar jalan
utama desa Trusmi dan Panembahan. Pemilik showroom batik Trusmi hampir
seluruhnya dimiliki oleh masyarakat Trusmi asli walaupun ada satu atau
dua saja yang dimiliki oleh pemilik modal dari luar Trusmi.

Contoh Koleksi Batik Cirebonan:
Koleksi Batik Komar Motif Ganggengan
Koleksi Batik Komar Motif Singa Payung

Iklan

Aksi

Information

One response

1 04 2010
Truden

Hola,
blogs.garutleather.com – da mejor. Guardar va!

Truden

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: