SEKILAS TENTANG ZAKAT FITHRI

9 09 2009

‘Abdullah Ibnu ‘Umar Radhiallaahu ‘anhuma Berkata: “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam Telah mewajibkan zakat fithri dari bulan Ramadhan sebanyak satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandum atas hamba, merdeka, laki-laki, perempuan, kecil maupun dewasa dari orang Islam.” (HR. Al-Bukhari 3/473 No.1511 dan Muslim 2/677 No.984)

Mulai diperintahkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam Pada bulan Sya’ban Tahun 2 H.

Hukum
Zakat fithrah hukumnya wajib sebagaimana disebutkan oleh hadits di atas dan banyak hadits lainnya. Kewajiban ini adalah bagi orang yang mampu membayarkan yaitu orang yang memiliki kelebihan makanan sekeluarga pada hari itu (hari ‘Idul Fithri)

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan zakat fithrah dari anak-anak, orang dewasa, merdeka dan hamba dari orang-orang yang menjadi tanggungan kalian.” (HR. Ad-Daruquthni 2/141, Al-Baihaqi 4/165) dari Ibnu ‘Umar Radhiyallaahu ‘anhu, Ibnu Syaibah dalam Al-Munshif 4/37 dengan sanad shahih)

Pembayar
Semua orang yang disebut dalam hadits di atas berkewajiban membayar zakat fithrah: Anak-anak, orang dewasa, laki-laki, perempuan, orang merdeka maupun budak, yaitu semua orang Islam yang mampu membayar. Seorang ayah mengeluarkan untuk dirinya dan anggota keluarga yang menjadi tanggungannya termasuk bayi yang baru lahir pada akhir bulan Ramadhan sebelum matahari terbenam. Sedangkan janin yang belum lahir tidak diwajibkan. Tidak diwajibkan bagi orang yang meninggal sebelum matahari terbenam (malam hari raya ‘Idul Fithri). Bila orang tua hanya mampu membayarkan untuk dirinya sendiri tidak mampu membayarkan zakat anak-anaknya, maka cukup bagi orang tua itu membayar untuk dirinya saja.

Orang tua tidak dituntut (diwajibkan) membayarkan zakat untuk anaknya yang sudah baligh yang kaya atau berkelebihan yang bisa membayar zakat fithrahnya sendiri.

Benda yang dizakatkan
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas, benda yang dizakatkan adalah kurma, gandum, atau kismis, beras dll. Yang menjadi bahan makanan pokok bagi daerah setempat.

Abu Said Al-Khudri berkata :
Dan makanan kami adalah gandum, kismis, Aqith (susu kering/keju) dan kurma. (Al-Bukhari 3/293, Muslim 985).

Ukuran
Satu sha’ yang sesuai dengan sha’ penduduk Madinah, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Timbangan itu adalah timbangan penduduk Makkah dan takaran itu adalah takaran penduduk Madinah.” (HR. Abu Dawud No. 2340, An-Nasa’i 7/281 dan Al-Baihaqi 6/31 dari Ibnu ‘Umar dengan sanad shahih).

Yaitu sebanding dengan dua kilo empat puluh dua gram (2,042 kg), karena satu sha’ = 480 mitsqal, satu mitsqal : 4,25 gram, maka satu sha’ sama dengan 480 x 4,25 gram = 2.040 gram atau 2,04 kg.

Waktu
Waktu menyampaikan yang paling utama adalah setelah terbit fajar sebelum shalat Idul Fithri berlangsung, namun sebelum Ramadhan berakhir satu atau dua hari juga diperbolehkan.

Ibnu Umar meriwayatkan, bahwa:
Bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyuruh zakat fithri agar ditunaikan sebelum manusia keluar ke shalat Ied. (HR. Al-Bukhari 3/463 No. 1503).

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kotor dan sebagai pemberian makan bagi kaum miskin, maka siapa yang menunaikan sebelum shalat (Ied) maka itulah zakat yang diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat (Ied) maka itu termasuk sedekah biasa. (HR. Abu Daud 2/111 No. 1609, Ibnu Majah No. 1827, Al-Albani menghasankan dalam Al-Irwa’ No. 843).

Dapat juga dibagikan sehari atau dua hari sebelum Ied sebagaimana dilaksanakan oleh Ibnu ‘Umar (Riwayat Ibnu Khuzaimah 4/83 dari ‘Abdul Warits dari Ayub).

Sesungguhnya Ibnu ‘Umar Radhiyallaahu ‘anhu menyerahkan zakat fithrah kepada orang-orang yang menerimanya (yang mengelolanya). Mereka adalah petugas yang diangkat oleh imam untuk mengumpulkan zakat, demikian itu sebelum idul fithri,satu hari atau dua hari. (HR. Ibnu Khuzaimah 4:83)
Saya bertanya: “Kapan Ibnu ‘Umar Menyerahkan zakat fithrah?” Ia menjawab: “Jika petugas sudah siap!” Saya bertanya: “Kapan petugas Siap?” Ia menjawab: “Sebelum ‘Iedul Fitri sehari atau dua hari”. (Al-Bukhari 11/728 No. 6713).

Orang yang berhak menerima zakat fitrah
Zakat Fithrah dibagikan kepada fakir miskin, mereka itulah yang diutamakan sebagaimana hadits tersebut diatas.
Sebagian ahli fiqih berpendapat zakat fithrah juga untuk: fakir, miskin, amil/petugas, muallaf, budak ingin merdeka, penanggung hutang, pejuang agama Allah, musafir yang butuh bekal. Karena zakat fithrah termasuk zakat yang pembagiannya adalah delapan golongan yang disebut dalam surat At-Taubah ayat 60 (Al-Mughni 4/314).

Namun yang diutamakan adalah menolong faqir miskin yang taat beribadah. Sebab hadits Rasulullah diatas menunjuk fakir miskin. Sedang shadaqah dalam surat At-Taubah : 60 adalah untuk zakat/ shadaqah yang umum/ (maal). (Majmu’ al-Fatawa: 13/47)

Tempat Mengeluarkan
Zakat fithrah harus dikeluarkan atau dibagikan di daerah tempat sendiri, kecuali bila fuqara’ dan masakin tempat tinggal itu telah terpenuhi sedang di daerah lain banyak fakir miskin atau yang lebih membutuhkan maka boleh dipindah ke daerah tersebut.

Bila sedang dalam bepergian maka dibagikan kepada fakir miskin yang ditemukan pada daerah yang ditemui (ditempati) pada saat itu. Membagikan kepada fakir miskin yang dekat hubungan famili : Saudara, paman dll adalah lebih utama, namun bukan kepada orang tua, kakek, anak dan cucu.

Membagi satu bagian zakat kepada beberapa fakir miskin diperbolehkan, sebagaimana mengumpulkan beberapa bagian zakat (beberapa sha’) untuk satu fakir miskin saja. Bila dibagi kepada beberapa orang namun masing-masing hanya mendapat bagian yang sedikit yang tidak mencukupi bagi keluarganya, maka harus dihindari. Namun bila pembagian yang demikian terpaksa dilakukan demi pemerataan maka haruslah ditempuh dan diatur dengan sebijaksana dan sebaik mungkin, sebab syariat yang mulia ini suci dari praktek dan pola yang tidak disetujui oleh akal sehat dan tuntunan yang bijak dari para pendahulu umatnya. (lihat Majmu’ al-Fatawa 13/47)

“Cukupilah mereka di hari ini dari meminta-minta.” (HR. Ad-Daruquthni)

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: