Korban Gempa di Garut Mencapai 10 Orang

3 09 2009

Kamis, 03 September 2009 | 07:42 WIB

Garut – Korban gempa di Kabupaten Garut, Jawa Barat, bertambah. Hingga Kamis (3/9) dini hari pukul 00.30 WIB, jumlah korban meninggal dunia di satuan pelaksana penanggulangan bencana tercatat sebanyak 10 orang.

Mereka diantaranya enam orang warga kecamatan Cikelet, dua orang warga kecamatan Pameungpeuk, satu orang warga kecamatan Peundeuy dan satu warga Kecamatan Cisompet.Sedangkan luka berat sebanyak enam orang yang semuannya merupakan warga Pameungpeuk. Untuk luka ringan sebanyak 51 orang, diantaranya 27 warga Pameungpeuk, Cibalong (tiga), Pangatikan (3), Peundeuy (12), dan enam orang Kecamatan Bayongbong.

Guncangan gempa juga merusak 965 rumah dengan kondisi rusak berat, sedangkan yang rusak sedang 544, rusak ringan 1296. Sekolah rusak Berat 3, rusak sedang 1 dan rusak ringan 2, masjid rusak berat 3, kantor desa rusak berat 3 buah.

Menurut Kepala dinas Kesehatan Kabupaten Garut Hendi Budiman, korban meninggal umumnya mengalami luka di bagian kepala akibat tertimpa dan terperangkap bangunan rumahnya. “Mereka yang mengalami luka berat pun rata-rata tertimpa bagunan di bagian kepala, sedangkan yang luka ringan pada umumnya mengalami robek,” ujarnya di lokasi kejadian.

Warga yang mengalami luka di wilayah pantai selatan Garut, saat ini dirawat di puskesmas pameungpeuk. Tercatat sebanyak 21 warga yang masih menjalani perawatan intensif. Karena tidak tertampung di ruangan, mereka terpaksa dirawat dilorong puskesmas yang berada diluar bangunan.

Meski terdapat banyak korban luka, Dinas Kesehatan Kabupaten Garut menjamin semua kebutuhan medis termasuk obat-obatan masih tercukupi. Begitu pula dengan jumlah tenaga medis. “Yang mereka butuhkan paling asupan gizi saja, karena saking paniknya mereka pada lupa makan saat buka puaa tadi,” ujarnya.

Kepala bagian humas Pemerintah Kabupaten Garut Dikdik Hendrajaya menyatakan, hingga saat ini banyak warganya yang mengungsi. Mereka lebih memilih untuk membuat tenda-tenda darurat di depan rumah dan lapangan terbuka. “Mereka belum berani masuk rumah, karena syok. Sehingga lebih memilih untuk tidur diluar,’ ujarnya.

Berdasarkan pantauan Tempo, hingga Kamis (3/9) sekitar pukul 05.30 WIB, warga Kecamatan Pameungpeuk dan Cikelet masih bertahan di pengungsiannya masing-masing. Kaum lelaki pun masih terjaga, karena khawatir terjadi gempa susulan yang dapat menyebabkan terjadinya tsunami.

Sumber tempo

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: