Indonesia Besar Tapi Kecil

28 07 2009

Jakarta – Mahasiswa saya bertanya, “Indonesia negara bagian ke berapa dari Amerika?”

Memang setiap kali saya menyebutkan asal saya, Indonesia, mahasiswa selalu tanya, di mana Indonesia? Beberapa mahasiswa hanya tahu nama dan beberapa lagi pernah dengar tentang Indonesia. Yang hanya tahu nama pun banyak yang tertukar dengan India.

Sebagai anak yang lahir dan tumbuh di Indonesia, menghirup udaranya Indonesia,
memakan beras petaninya Indonesia, kecintaan saya pada Indonesia tentu sangat terusik. Bagaimana tidak, seorang mahasiswa bilang “saya pernah ke Singapura, besar mana Indonesia dengan Singapura?”

Mahasiwa yang lain bilang “waktu saya ke Twins Tower di Malaysia berkenalan dengan orang Indonesia, Indonesia sebelah mana Malaysia?” Mahasiswa yang pernah homestay di New Zealand mengatakan “katanya Indonesia panas sekali ya?”

Ah, rasanya ingin sekali saya menjelaskan kepada mereka bahwa nenek moyang mereka pernah datang menjajah negeri saya. Tidakkah mereka diajarkan tentang sejarah itu oleh guru-guru mereka. Ingin sekali saya katakan pada mereka bahwa Indonesia jauh lebih besar dari Malaysia apalagi Singapura. Bahkan, Indonesia lebih besar dari negeri mereka.

Namun, saya sedar. Ketidaktahuan mereka tentang Indonesia bukanlah salah mereka. Bukan juga salah Singapura, Malaysia, atau New Zealand yang jauh lebih dikenal mereka. Tentu ini salah kita sendiri yang tak mampu mengkapitalisasi seluruh potensi yang kita miliki menjadi sesuatu yang layak dikenal dunia dan dihargai.

Saya ajak mereka mendekat komputer, saya buka internet, saya tunjukkan peta
Indonesia di antara peta dunia. Mereka terkejut melihat Indonesia yang luas dan berisi banyak pulau. Mereka lebih terkejut ketika saya katakan “di Indonesia, tidak ada panas yang terlalu seperti saat summer di Jepang, tidak juga ada dingin yang terlalu seperti saat winter.”

Mereka terkejut ketika saya bercerita tentang kekayaan budaya Indonesia. Saya katakan Amerika yang besar cuma punya satu bahasa. Tapi, di Indonesia kami punya banyak sekali bahasa daerah, beragam pakaian adat, beragam warna kulit dan beragam tradisi dan budaya.

Beberapa bulan lalu, saat mengikuti kuliah keselamatan peneliti di negara asing, seorang dosen menjelaskan negara-negara yang rawan bagi peneliti, yang membutuhkan kewaspadaan tinggi bagi mereka yang mau mengunjungi. Salah satu negara yang paling sering disebut adalah Indonesia. Sang dosen menayangkan gambar lengkap dengan foto-foto tentang Indonesia. Dari mulai buruknya sanitasi sampai potensi Kriminal yang mungkin akan dihadapi.

Saya kesal, karena yang ditayangkan foto-foto kerusuhan yang terjadi lebih dari 10 tahun lalu. Foto-foto pedagang es di pinggir jalan yang tidak higienis. Foto-foto orang mandi di kali. Foto-foto penodongan, pencopetan, dan
penjambretan, sampai foto-foto daerah rawan flu burung.

Semua foto itu asli. Mereka tidak sedang mengarang-ngarang cerita karena semua
gambar yang ditayangkan saya bisa mengenalinya. Dan itu memang benar-benar gambaran Indonesia. Masalahnya, itu hanyalah sebagian kecil realitas Indonesia. Tentang kerusuhan dan flu burung sudah lama sekali terjadi.

Foto pedagang es saya yakini para peneliti takkan membeli. Tentang mandi di kali juga saya yakin tidak akan dialami. Paling mungkin soal penodongan, pencopetan, dan penjambretan yang memang masih sering terjadi. Yang saya sedihkan mengapa gambaran ini yang tertangkap kuat di benak mereka?

Saya benar-benar sedih. Indonesia tidak dikenali. Kalau pun dikenali dalam wajahnya yang buruk sekali. Walau bagaimana pun itulah kenyataanya. Meski kita berteriak kita kaya. Punya negeri yang indah menawan. Desa-desa yang menentramkan. Tidak akan mudah mengubah pandangan mereka hanya dalam satu pembicaraan. Karena mereka butuh bukti nyata dari kita semua. Bahwa Indonesia bukanlah seperti apa yang ada di kepala mereka.

Sebenarnya upaya untuk membangun citra bangsa di dunia Internasional telah banyak dilakukan. Baik secara individual maupun kolektif. Prestasi atlit kita, seperti tinju, bulu tangkis, catur dan lain-lainnya tidak bisa dibandingkan dengan Singapura atau Malaysia. Begitu juga prestasi pelajar-pelajar kita dalam lomba-lomba internasional sangat luar biasa.

Kegiatan-kegiatan promosi budaya juga sering dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia tanpa pamrih atau pun imbalan dari pemerintah. Semua dilakukan semata karena cinta Indonesia. Persoalannya prestasi atau pun kerja-kerja individual menjadi kurang kuat pengaruhnya ketika negara secara kolektif tidak mampu menampilkan wajah indahnya di dunia.

Prestasi individual anak bangsa ternegasikan oleh tingginya angka kemiskinan dan kejahatan. Gambaran Indonesia yang tentram tercerabut oleh buruknya penanganan bencana. Wajah indah Nusantara, dengan kakayaan pariwisata yang tak ada duanya, bukan hanya ternoda oleh buruknya industri penerbangan kita, tapi juga tertutup oleh kelakuan buruk sebagian kecil anak bangsa.

Mudah-mudahan pemimpin yang baru terpilih tidak hanya sibuk memanipulasi citra dirinya di mata anak bangsa. Tapi, bekerja keras melahirkan karya nyata yang bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa di dunia. Semoga pemimpin yang terpilih tidak asyik dengan manipulasi prestasi. Tapi, benar-benar berkorban untuk mensejahterakan rakyat secara nyata. Benar-benar berjuang menguatkan posisi tawar Indonesia diantara bangsa-bangsa di dunia, yang pada akhirnya mampu membuat kita benar-benar bangga sebagai anak bangsa. Semoga.

Mukhamad Najib
4-6-41 Shirokanedai Minato-Ku Tokyo
mnajib23@yahoo.com
+81-90-982-10-982

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: