Kontekstualisasi Semangat Maulid

16 03 2009

Senin lalu umat Islam memperingati hari Maulid Nabi Muhammad Saw. Berbagai acara diadakan memeringati momentum istimewa itu, peringatan Maulid Nabi ini yang di kenal sebagai Muludan oleh masyarakat Jawa, bisa berbeda antara satu daerah dengan daerah lain sesuai dengan kultur dan tradisi masyarakat setempat. Namun intinya tetap sama, memeringati hari lahirnya manusia agung yang dalam bahasa agama disebut sebagai INSAN AL-KAMIL (manusia paripurna).

Memang ada sebagain kalangan yang tidak menyetujui perayaan Maulid Nabi. Perayaan ini menurut mereka tidak mempunya landasan hukum dalam al-Qur’an maupun Hadits dan juga tidak dipraktikan oleh Rasulullah Saw, sahabat, tabi’in, ataupun tabi’it tabi’in, karena itu tambah mereka, perayaan ini dikatergorikan sebagai bid’ah.

kita tidak ingin mempertentangkan kelompok yang mengatakan peringatan Maulid adalah ritual mesti dijalankan, dengan kelompok lain yang menganggap maulid sebagai perbuatan yang mengada-ada atau bid’ah. terlepas dari dua pendapat tersebut, penulis ingin mengangkat semangat perayaan Maulid Nabi Saw yang “dipopulerkan” oleh Sulatan SalahuddinnAl Ayyubi untuk kemudian dikontektualisasi dengan kondisi kekinian umat islam.

Sejarah Perayaan Maulid

Salahuddin Al Ayyubi dalam literatur sejarah Eropa dikenal dengan nama “Saladin” berasal dari dinasti Ayyub (setingkat gubernur) Ia memerintah dari tahun 1174-1193 M atau 570-790 H, Ia bukanlah orang Arab melainkan berasal dari suku Kurdi, Pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia.

pada masa itu dunia islam sedang mendapatkan serangan-serangan gelombang demi gelombang dari berbagai bangsa Eropa (Prancis, Jerman, Inggris). inilah yang dikenal dengan Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 laskar Eropa merebut Yerusalem. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan (Jihad) (sama seperti sekrang), dan persaudaran (Ukhuwah) (sama seperti sekarang), sebab secara politis terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan, meskipun khalifah tetap satu, yaitu Bani Abbas di Bagdad, sebagai lambang persatuan spiritual.

Guna menghidupkan daya juang (Jihad) umat Islam untuk merebut kembali Yerusalem, Salahuddin meminta persetujuan dari Khalifah di Baghdad yakni An-Nashir agar umat Islam di seluruh dunia merayakan hari Lahir Nabi Muhammad saw. Menurut Salahuddin semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada nabi mereka. Ternyata ide yang dilontarkan Salahuddin ini disambut baik oleh Khalifah.

Maka, pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi), Salahuddin sebagai penguasa baramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan intruksi kepada seluruh jemaah haji. Ia mengimbau agar jemaah haji setelah kembali ke kampungnya masing-masing mensosialisasikan perayaan Maulid Nabi. Salahuddin menyatakan bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 M), setiap tanggal 12 Rabiul-Awal, dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dan diisi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat juang umat Islam.

Salahuddin ditentang oleh para ulama, sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuman ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikatergorikan bid’ah yang terlarang.

Ternyata peringatan Maulid Nabi yang di selenggarakan Sultan Salahuddin itu menimbulkan efek yang luar biasa, semangat umat Islam menghadapi bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583M) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa.

Di bawah kepemimpinannya, perang salib diakhiri dengan sedikit korban. Tak seperti tentara Salib menduduki Jerusalem dan membunuh semua Muslim yang tersisa, pasukan Salahuddin mengawal umat Kristen dan memastikan jiwa mereka selamat saat keluar dari Jerusalem. Begitulah Akhlak Islam dalam perang yang dicontohkan Rasulullah Saw.

Maulid Kontekstual

Berangkat dari latar belakang historis Maulid tersebut, jelas bahwa Maulid itu sangat tergantung pada konteks. Jika dahulu Salahuddin berhadapan dengan tentara Salib, bagaimana dengan kondisi umat Islam sekarang? untuk itu diperlukan kejelian dalam melihat permasalahan-permasalahan yang dihadapi umat Islam saat ini.

Di antara persoalan-persoalan besar yang dihadapi adalah kemelaratan, kemiskinan, dan kebodohan serta perpecahan ditubuh umat Islam yang terkadang berakhir dengan konflik berdarah. Keempat persoalan tersebut adalah masalah klasik yang belum terpecahkan sampai detik ini. Adapun permasalahan kontemporer yang dihadapi umat adalah, terorisme, kekerasan atas nama agama, tatanan dunia yang tidak adil, korupsi, narkoba, judi, pornografi, nepotisme, dan hal-hal lain yang berbau takhayul.

Isu-isu ini semestinya diangkat oleh mubaligh, ustaz, da’i kepermukaan dan dibicarakan dalam peringatan Maulid. Syukur-syukur kita mampu menemukan jalan keluarnya. Adalah lebih baik, jika dari sebuah peringatan maulid kita dapat melahirkan sebuah aksi nyata atau program yang kongkrit yang bisa langsung dirasakan masyarakat seperti pemberdayaan di bidang pendidikan dan ekonomi.

Pemberdayaan di dua bidang ini mempunyai peral sentral dalam menangkis umat dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Kebodohan dan kemiskinan umat Isalm ini mesti secepatnya dihilangkan karena dua hal ini merupakan satu faktir utama yang menyerambahkan umat Islam dalam aksi kekerasan atau terorisme, perbuatan yang meluluhlantakan citra Islam sebagai agama damai di tengah percaturan politik global.

Jika maulid tidak lagi kontekstual, tidak mempunya daya “pecut” menggugah semangat juang kita untuk melakukan langkah kongkret bagi kemajuan dan kemakmuran, hanya sebatas emosional saja, sangat dikhawatirkan umat Islam akan terlempar pada romantisme sejarah. Perlahan namun pasti kita pun mengkultuskan Nabi Muhammad Saw sebagai orang suci yang memiliki keistimewaan ketuhanan. Padahal al-Qur’an menyebut Nabi Muhammad Saw sebagai manusia biasa.

Hal ini didasarkan pada Firman Allah Swt yang berbunyi :

“katakanlah” ‘sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa’ Barang siapang mengharap perjumaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan  seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya,”

(QS al- Kahfi 18 : 110)

Penegasan al-Qur’an bahwa Rosulullah Saw adalah manusia biasa, sama seperti kita, Membuatnya menjadi sangat istimewa, karena sebagai manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, tidak seperti malaikat. Rasulullah Saw berhasil melepaskan diri dari jerat hawa nafsu dan tampil sebagai Insan al-kamil, manusia yang senantiasa hidup dalam tuntunan nilai-nilai Ilahi, “Wallahu a’lamu bissalamah.”

Ditulis ulang oleh Agus Pakusarakan

bersumber dari Buletin Jum’at “Sirotul Mustakim” No. 249 Th. VI Jum’at 2, 16 Rabiul Awal 1430H/13 maret 2009M

Iklan

Aksi

Information

2 responses

20 08 2009
motivasi259.blogspot.com

comment ke 218 luar biasa spektakuler artikel anda sangat membantu saya sekali terima kasih

29 09 2009
Kang Paku

sama-sama semoga kitabisa senantiasa dalam lindungan Allahs Swt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: