Valentine Day dalam tinjauan syariat

12 02 2009

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

tgl 14 Feb sebentar lagi …

nah sebelum kejadian ; berikut antisipasinya semoga bermanfaat.

Penulis: Fatwa al Lajnah ad Daimah li al Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al If

Valentine’s Day sebenarnya, bersumber dari paganisme orang musyrik,penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor kuffar. Bahkan tak
ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih juga
menyambut Hari Valentine ? Adakah ia merupakan hari yang istimewa?
Adat? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya
akan diminta pertangggungjawabannya” (Al Isra’ : 36).

Sebelum kita terjerumus pada budaya yang dapat menyebabkan kita
tergelincir kepada kemaksiatan maupun penyesalan, kita tahu bahwa
acara itu jelas berasal dari kaum kafir yang akidahnya berbeda dengan
ummat Islam, sedangkan Rasulullah bersabda: Diriwayatkan dari Abu Said
al-Khudri Radiyallahu ‘anhu : Rasulullah bersabda: “Kamu akan
mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal,
sehasta demi sehasta. Sampai mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu
tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang
kamu maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani?
Rasulullah bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?” ( HR. Bukhori
dan Muslim ).

Pertanyaan : Sebagian orang merayakan Yaum Al-Hubb (Hari Kasih Sayang)
pada tanggal 14 Februari [bulan kedua pada kalender Gregorian kristen
/ Masehi] setiap tahun, diantaranya dengan saling-menghadiahi bunga
mawar merah. Mereka juga berdandan dengan pakaian merah (merah
jambu,red), dan memberi ucapan selamat satu sama lain (berkaitan
dengan hari tsb).

Beberapa toko-toko gula-gula pun memproduksi manisan khusus – berwarna
merah- dan yang menggambarkan simbol hati/jantung ketika itu (simbol
love/cinta, red). Toko-tokopun tersebut mengiklankan yang
barang-barang mereka secara khusus dikaitkan dengan hari ini.
Bagaimana pandangan syariah Islam mengenai hal berikut :

1. Merayakan hari valentine ini ?
2. Melakukan transaksi pembelian pada hari valentine ini?
3. Transaksi penjualan – sementara pemilik toko tidak merayakannya –
dalam berbagai hal yang dapat digunakan sebagai hadiah bagi yang
sedang merayakan?
Semoga Allah memberi Anda penghargaan dengan seluruh kebaikan !

Jawaban : Bukti yang jelas terang dari Al Qur’an dan Sunnah – dan ini
adalah yang disepakati oleh konsensus ( Ijma’) dari ummah generasi
awal muslim – menunjukkan bahwa ada hanya dua macam Ied (hari Raya)
dalam Islam : ‘ Ied Al-Fitr (setelah puasa Ramadhan) dan ‘ Ied Al-Adha
(setelah hari ‘ Arafah untuk berziarah).

Maka seluruh Ied yang lainnya – apakah itu adalah buatan seseorang,
kelompok, peristiwa atau even lain – yang diperkenalkan sebagai hari
Raya / ‘Ied, tidaklah diperkenankan bagi muslimin untuk mengambil
bagian didalamnya, termasuk mengadakan acara yang menunjukkan
sukarianya pada even tersebut, atau membantu didalamnya – apapun
bentuknya – sebab hal ini telah melampaui batas-batas syari’ah Allah:

وَتِلْكَ حُدُودُاللَّهِ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ
Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum
Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya
sendiri. [ Surah At-Thalaq ayat 1]

Jika kita menambah-nambah Ied yang telah ditetapkan, sementara
faktanya bahwa hari raya ini merupakan hari raya orang kafir, maka
yang demikian termasuk berdosa. Disebabkan perayaan Ied tersebut
meniru-niru (tasyabbuh) dengan perilaku orang-orang kafir dan
merupakan jenis Muwaalaat (Loyalitas) kepada mereka. Dan Allah telah
melarang untuk meniru-niru perilaku orang kafir tersebut dan termasuk
memiliki kecintaan, kesetiaan kepada mereka, yang termaktub dalam
kitab Dzat yang Maha Perkasa (Al Qur’an). Ini juga ketetapan dari Nabi
(Shalallaahu ` Alaihi wa sallam) bahwa beliau bersabda : “Barangsiapa
meniru suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum tersebut”.

Ied al-Hubb (perayaan Valentine’s Day) datangnya dari kalangan apa
yang telah disebutkan, termasuk salah satu hari besar / hari libur
dari kaum paganis Kristen. Karenanya, diharamkan untuk siapapun dari
kalangan muslimin, yang dia mengaku beriman kepada Allah dan Hari
Akhir, untuk mengambil bagian di dalamnya, termasuk memberi ucapan
selamat (kepada seseorang pada saat itu). Sebaliknya, adalah wajib
untuknya menjauhi dari perayaan tersebut – sebagai bentuk ketaatan
pada Allah dan Rasul-Nya, dan menjaga jarak dirinya dari kemarahan
Allaah dan hukumanNya.

Lebih-lebih lagi, hal itu terlarang untuk seorang muslim untuk
membantu atau menolong dalam perayaan ini, atau perayaan apapun juga
yang termasuk terlarang, baik berupa makanan atau minuman, jual atau
beli, produksi, ucapan terima kasih, surat-menyurat, pengumuman, dan
lain lain. Semua hal ini dikaitkan sebagai bentuk tolong-menolong
dalam dosa serta pelanggaran, juga sebagai bentuk pengingkaran atas
Allah dan Rasulullah. Allaah, Dzat yang Maha Agung dan Maha Tinggi,
berfirman:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى
الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ
الْعِقَابِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa,
dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan
bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat
siksa-Nya. [Surah al-Maa.idah, Ayat 2]
Demikian juga, termasuk kewajiban bagi tiap-tiap muslim untuk memegang
teguh atas Al Qur’an dan Sunnah dalam seluruh kondisi – terutama saat
terjadi rayuan dan godaan kejelekan. Maka semoga dia memahami dan
sadar dari akibat turutnya dia dalam barisan sesat tersebut yang Allah
murka padanya (Yahudi) dan atas mereka yang tersesat (Kristen), serta
orang-orang yang mengikuti hawa nafsu diantara mereka, yang tidak
punya rasa takut – maupun harapan dan pahala – dari Allah, dan atas
siapa-siapa yang memberi perhatian sama sekali atas Islam.

Maka hal ini sangat penting bagi muslim untuk bersegera kembali ke
jalan Allah, yang Maha Tinggi, mengharap dan memohon Hidayah Nya
(Bimbingan) dan Tsabbat (Keteguhan) atas jalanNya. Dan sungguh, tidak
ada pemberi petunjuk kecuali Allaah, dan tak seorangpun yang dapat
menganugrahkan keteguhan kecuali dariNya.

Dan kepada Allaah lah segala kesuksesan dan semgoa Allaah memberikan
sholawat dan salam atas Nabi kita ( Shalallaahu ` Alaihi wa sallam)
beserta keluarganya dan rekannya.

Lembaga tetap pengkajian ilmiah dan riset fatwa
Ketua : Syaikh ‘ Abdul ‘ Aziz Al Asy-Syaikh;
Wakil Ketua : Syaikh Saalih ibn Fauzaan;
Anggota: Syaikh ‘ Abdullaah ibn Ghudayyaan;

Anggota: Syaikh Bakar Ibn ‘ Abdullaah Abu Zaid

(Fataawa al-Lajnah ad-Daaimah lil-Buhuts al-‘Ilmiyyah Wal-Iftaa.-
Fatwa Nomor 21203. Lembaga tetap pengkajian ilmiah dan riset fatwa
Saudi Arabia)

Dinukil dari http://www.fatwa-online.com/fataawa/innovations/celebrations/cel003/0020123_1.htm.

Pertanyaan : Bagaimana hukum merayakan hari Kasih Sayang / Valentine Day’s ?

Syaikh Muhammad Sholih Al-Utsaimin menjawab :
“Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena:

Pertama: ia merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya
di dalam syari’at Islam.

Kedua: ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan
seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih
(pendahulu kita) – semoga Allah meridhai mereka. Maka tidak halal
melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan,
minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya.
Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi
orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah
melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak
ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan
bimbingan-Nya.”

Maka adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat
syahadat untuk melaksanakan wala’ dan bara’ ( loyalitas kepada
muslimin dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar
akidah yang dipegang oleh para salaf shalih. Yaitu mencintai
orang-orang mu’min dan membenci dan menyelisihi (membedakan diri
dengan) orang-orang kafir dalam ibadah dan perilaku.

Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: ikut mempopulerkan
ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam. Dampak
buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak
jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang
muslim dalam setiap raka’at shalatnya membaca,

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang
telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka
yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
(Al-Fatihah:6-7)

Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya
jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan
mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri malah menempuh jalan
sesat itu dengan sukarela. Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin
terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang serta dapat
melahirkan kecintaan dan keterikatan hati.

Allah Subhannahu wa Ta’ala telah berfirman, yang artinya: “Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi
dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah
pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu
mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu
termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah:51)

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan
hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang
Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah: 22)

Ada seorang gadis mengatakan, bahwa ia tidak mengikuti keyakinan
mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan
makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya.

Saudaraku! Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi: Perayaan
ini adalah acara ritual agama lain! Hadiah yang diberikan sebagai
ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan
pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan
mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka.

Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi
lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang
batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat
ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.

Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu
semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di
antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan
yang agung, kita bisa mempersembahkan ketulusan dan cinta itu
kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara,
suami …dst, tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang
dirayakan oleh orang-orang kafir.

Semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala senantiasa menjadikan hidup kita
penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi
jembatan untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas langit dan
bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.

Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita
saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada
saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya.

Semoga Allah Ta’ala Membalas ‘Amal Ibadah Kita.

——————————
————————
Penjelasan Tambahan :
Beberapa versi sebab-musabab dirayakannya hari Kasih sayang ini, dalam
The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai
Valentine’s Day.
1. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa
Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk
dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para
pemuda mengundi nama –nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda
mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi
pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada
15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan
srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit
binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu
akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini
dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti
nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara
pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The
Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih
mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I
menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan
nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St Valentine yang
kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia
1998).

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan
ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya
dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak
pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan
kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap
sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan
memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa
Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi
Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan
doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali
penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara
muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada
orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah,
namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda
sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M
(lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).

Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan
langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans
dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang
St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di
Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya
dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia
Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).

Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam
artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org)
mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang
Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan
kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau
tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my
Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan
(karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya
pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, yang
artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid
(berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra
Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia
rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya
sendiri! . Layaknya seorang muslim segera bertaubat mengucap
istighfar, “Astaghfirullah”, wa naudzubillahi min dzalik. (Dari
berbagai sumber).
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: