Kelakuan Para Calon Penguasa

4 09 2008

Tingkah laku yang biasa dan sudah tidak asing lagi sering dilakukan baik oleh calon Presiden, Legislatif, Gubenur maupun calon Bupati/Walikota, ya apa lagi selain berkunjung ke pasar tradisional, desa-desa, kepertanian bahkan ke rumah-rumah kumuh melakukan santunan, sumbangan sembako murah dan lain-lain, ini dilakukan para calon tersebut beserta partainya dan beserta tim sukses baik yang jalur partai maupun perseorangan.

yah hal-hal diatas akan biasa kita lihat baik di televisi maupun di koran-koran pada masa-masa akan dilakukannya pemilihan baik Pemilu, Pilpres, maupun Pilkada pilkada. setelah menang dan menduduki jabatan hal-hal diatas jarang sekali dilakukan bahkan bisa dikatakan lupa akan yang di ucapkannya saat berkunjung ke pasar, panti dan desa-desa.

laksana musim durian, musim rambutan begitupun ada musim para penguasa berkunjung yah pasa musim pemilu, semua akan berbuat baik dan semua ingin menjadi yang terbaik dihadapan rakyat, bahkan ada yang real membagi-bagikan uang tunai lewat keputusan yang sedang dikuasainya dan ada juga yang mengadakan jalan santi dan anek lomba-lomba.

janji-janji yang sering diumbar adalah
– pendidikan gratis
– kesehatan gratis
– peningkatan taraf hidup
– pengentasan kemiskinan
– dan ain-lain

pendidikan gratis ya itulah alasan tepat buat mengambil simpati masa yang sedang dalam kesulitan biaya pendidikan, lagilagi janji tinggal janji gratis sih gratis SPP tetapi muncul iuran a iuran b sumbangan a sumbangan b, buat a buat b bahkan ada yang mewajibkan setiap murid untuk memilik buku-buku referesni yang ada yang parahnya pembeliannya harus melalui sekolah dan dinas pendidikan. kacaunya lagi adalah penyebatan dana bos, dari namanya bos (biaya operasional sekolah) tetapi dalam kenyataan seolah seperti gaji ke 13 yang sangat di nanti oleh para guru dan lucunya ada sebagain daerah pembagian bos melalui pemerintah desa yang akhirnya dibagikan kepada masyarakat yang bahkan mampu,(memiliki tv, rumah tembok permanent, memiliki sawah dan kebun) sementara di sebelah ada yang tidak memiliki apa2 anya sebuah rumah gubuk dan radio butut tidak mendapakan apa-apa baik BOS, BLT dan bantun-bantua lainnya. konyolnya lagi Pemerintah pusat mengaku berhasil tanpa melihat kenyataan kalau sumbangan nya itu tidak tepat sasaran, yang ada hanyalah ajak bagi-bagi dana buat Pemerintah desam kecamatan dan kabupaten/kota.

ironis memang disaat rakyat menjerit kekurangan giji, sembako melambung tinggi disaat itupula para petinggi negara sedang asyik menikmati aneka fasilitas yang di berikan negara, kendaraa, rumah, dan fasilitas2 lainnya.

kesehatan gratis inipun bernasib sama gratis tinggallah sebuah kata-kata gratis dengan ketentuan seperti harus ada KK, KTP, dan kartu miskin dari desa sementar pembuatan KK harus mengeluarkan kocek sebar 20rb hingga ratusan ribu, begitupun dengan keterangan lainnya.. sungguh irono gratis disisi lain diperas dari prosedur untuk mendapatkan keterangan.
yang lebih parah lagi setiap pasien yang kurang mampu selalu mendapat perlakuan tidak ada dari pihak rumah sakit, puskesmas dan lain-lain, dan selalu ditempatkan di kamar kelas III dengan cara berhmpit2an. aneh memang mau kasih gratis tetapi fasilitas yang sangat minim bahkan pelayanan pun minum sekali.

peningkatan tarap hidup hanyalah untuk mereka yang masuk dalam jajaran tim sukses dari sipemang kekuasan, bagi rakyat sama saja apa lagi di tunjang dengan berbagi kenaikan mualai dari BBM hingga ke popok bayi, bahkan banyak keluarga yang tak mampu beli susu buat bayinya
namun pemerintah mengelak dengan gagah bahwa sudah dikeluarkan kebijakan bantuan, kebijakan tinggal kebijakan kepres tinggal kepres, perda tinggal perda kalau tidak mau cros chek and ricek ke tingkat rt sama saja bohong besar.

pengentasan kemiskinan rupanya inilah yang sangat berhasil kemiskinan menurut katanya ya jelas saja menurut wong banyak yang mati kekuranan giji, mati di serang POL PP mati karena rumah dan bendanya di seruduk buldozer.

harapan yang masih bisa di gantungkan kepada para penguasa adalah
1. janganlah terlal percaya sama laporan para staf dan bawah anda
2. cors cek hingga ke level pemerintah terendah yaitu RT dan RW

laporan-laporan yang kurang seusai adalah dari
1. BPS asal ngecap saja banyak kasus sensus dilakuakn sama dengan pencatatan meter listrik asal tebak ditingkat desa, kecamatan bahkan tingkat kabupaten/kota
2. Dept. dalam negeri banyak bohongnya data belum selesai dioleh sudah dilaporkan selsai padahal data yang masukd ari daerah2 ngaco semua, termasuk data-data saya
3. Gubernur yang selalu merasa paling berjasa untuk daerahnya padahal pendudukan yang bernama abdul di tengah hutan pun tidak pernah tau
4. semua lini laporannya banyak mondifikasi, cros cek lah ke level terendah

—AP’08—

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: