Berlomba Menjadi Pimpinan

10 08 2008

dari pemilu ke pemilu dari pilkada ke pilkada dari pilkades ke pilkades selalu ramai orang-orang yang haus akan menjadi orang terdepan dan memimpin negara dan daerahnya, bahkan rela untuk mengeluarkan kocek lebih bukan sekedar kocek lebih dari itu, bahkan ada yang rela menjual hak negara yang seharusnya dinikmati rakyat diberikannya kepada pihak asing yang mau membackup pendanaan dalam pemilu.

sudah tak heran lagi jika kemudian menang janji-janji yang diumbarkan saat kampanye hanyalah menjadi kenangan belaka bahkan mungkin tidak ingat sama sekali, karena berikutnya lebih sibuk mengurus kunjungan wilayah, kunjungan negara, study banding bahkan ngopi dan kongko kongko sambil menghamburkan anggaran negara.

pada saat mencalonkan pun telah menghambur-hamburkan dana bahkan itu terjadi sebelum disahkan oleh KPU/KPUD, kemudian berlomba memberikan dana yang besar kepada partai pendukung, tim sukses, orang-orang yang dianggapnya tokoh yang bisa membawa masa untuk mendukungnya, tanpa di telusuri dengan teliti ketokohan nya apakah benar mampunya masa atau hanya cuap cuap belaka, yah barangkali sama saja cuap cuapnya dengan yang akan mencalokan diri.

tau kahkalian bawah memimpin negara, daerah ini adalah amanah dan tanggung jawab yang sangat besar baik dihadapan rakyat maupun di hadapan Allah swt sang maha pencipta, apakah hanya berfikiran bahkan tanggung jawab itu hanya untuk pendukung/donar utama seperti LSM bahkan negara asing sekalipun, yang akhirnya membebani rakyat sendiri, seperti semua lahan tambang dikuasi oleh negara asing bahkan supermarketpun dan tidak tanggung minimarketpun dikuasi asing.

dahulu perjuang kita berlomba menasionalisasikan kekayaan alam dan yang terkandung didalamnya guna kepentingan negara dan rakyat, entah apa kini yang sudah nasionalpun diswastanisasi sungguh terbalik dengan apa-apa yang diperjuangkan para pendahulu negara ini, apakah mungkin sudah bosan memiliki negara ini atau mungkin jajaranpemerintah yang memang sudah tidak becus mengurus  sumberdaya alam dan yang terkandung didalamnya untuk kepentingan negara dan bangsa atau mungkin sudah merasa kenyang sendiri dan tidak peduli negara dan rakyat akan seperti apa?

kina merebut kepemimpinan laksana sebuah perlombaan 17 agustusan seperti saya bermain balapan karung atau balapan kelereng, siapapun ingin menjadi yang memimpin, dan ketika kalah bukan rasa syukur yang di keluarkan tetapi cacian dan makaian baik ke lawan maupun pendukungnya yang dianggap kurang pintar dalam mengambil hati rakyat.

untuk seorang bakal calon bupati saja tak kurang dari 5 M yang harus di setorkan kepada partai politik, belum lagitim sukses dan dana yang harus di berikan kepada calon pemilih ada yang memberi 50rb ada yang 100rb ada juga yang memberi dengan cara pengobatan gratis, lomba jalan santai dengan hadiah kendaraan bermotor? sungguh sakit bagi yang kalah dalam pertarungan dan langsung membatu buta bagi yang menang untuk mengembalikan modalnya. menjadi pemimpin di negeri ini tak ubanya mendirikan sebuah cv, pt bahkan mengelola sebuah project yang penuh dengan KKN pengaturan bahkan tak jarang pula project sudah berjalan namun tender belum di lakukan.

berlomba menjadi pemimpin ternya bukan untuk memimpin tetapi untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya contoh saja hampir semua tim sukses dari pemenang pilpres, pemilu bahkan pilkada menjadi prioritas dalam mendapatkan project-project pemerintah tanpak mengedepankan kwalitas dan harga, sehingga banyak project itu yang gagal karena bukan profesional yang ada tetapi politisasi yang ada.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: