Kebijakan Neoliberal

24 05 2009

Ramainya bursa capres juga diramaikan denga isu gaya kepemimpinan ekonomi liberal, perlu kita cermati apa dan bagaimana neoliberal itu? sekedar batasan dasar ada beberapa  ciri-ciri neoliberalisme diantaranya pengembangan individu untuk bersaing secara bebas-sempurna di pasar, pembentukan harga pasar tidak bersifat alami, akan tetapi diatur dengan undang-undang.

Kebijakan neoliberalisme  ini memang akan mampu menggerakkan perekonomian kapitalis sehingga sekotor ekonomi kerakyatan bukanlah sebuah tujuan namun hanyalah sebuah jargon politik untuk memenangkan PILPRES, kita cermati baik masa pemerintah sekarang maupun nanti pemerintahan pasca pemilu, siapa yang NEOLIBERAL,

Neoliberalisme

Neoliberalisme itu istilah licin yang sering mengecoh pemakainya. Misalnya, ekonomi pasar dianggap identik
neoliberalisme. Neoliberalisme memang melibatkan aplikasi ekonomi-pasar, tetapi tidak semua ekonomi-pasar bersifat
neoliberal (ekonomi pasar sosial, bukan neoliberal). Atau, privatisasi sering dilihat identik dengan ciri kebijakan neoliberal. Padahal, tidak semua program privatisasi bersifat neoliberal. Mengapa istilah itu berawalan neo?

Awalan neo (baru) pada istilah neoliberalisme menunjuk gejala kemiripan tata ekonomi 30 tahun terakhir dengan masa
kejayaan liberalisme ekonomi di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang ditandai dominasi financial capital dalam
proses ekonomi. Namun, apa yang terjadi dalam 30 tahun terakhir bercorak lebih ekstrem daripada seabad lalu.

Reinkarnasi liberalisme ekonomi akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 dalam bentuk lebih ekstrem itu berlangsung
dengan mengakhiri era besar yang disebut embedded liberalism. Embedded liberalism merupakan model ekonomi
setelah Perang Dunia II hingga akhir dekade 1970-an. Intinya, kinerja ekonomi pasar dikawal dengan seperangkat aturan yang membuat relasi antara modal dan tenaga-kerja tidak selalu berakhir dengan subordinasi labour pada capital. Seperti tata ekonomi seabad lalu, neoliberalisme berisi kecenderungan lepasnya kinerja modal dari kawalan, tetapi dalam bentuk lebih ekstrem.

Dari hal kecil itu tampak, betapa sulitnya menunjuk persis arti neoliberalisme. Selain itu, neoliberalisme merupakan istilah yang lebih terpahami dalam konteks intelektual Eropa (istilah liberal punya arti lain di AS). Dalam perjalanan sejarah yang tumpang tindih, neoliberalisme banyak dikaitkan visi ekonomi kelompok seperti Mont Pelerin Society dan ekonom mazhab Chicago, seperti Milton Friedman, Gary Becker, dan George Stigler. Namun, neoliberalisme bukan sekadar ekonomi. Ia visi tentang manusia dan masyarakat, dengan cara pikir ekonomi yang khas sebagai perangkat utama. Mungkin dua lapis definisi yang saling terkait dapat membantu memahami jantung filsafat ekonomi neoliberalisme.

Visi antropologis

Lain dengan liberalisme abad ke-19, neoliberalisme berkembang melalui reduksi manusia sebagai makhluk ekonomi
(homo oeconomicus). Tak ada yang aneh pada reduksi itu. Penciutan pengandaian itu tidak dengan sendirinya keliru.
Keketatan berpikir dalam kinerja tiap ilmu biasanya melibatkan penciutan, seperti geografi berangkat dari pengandaian
manusia sebagai makhluk ruang; ilmu hukum dari premis manusia sebagai makhluk tata aturan.

Apakah visi antropologis yang telah diciutkan demi keketatan proses berpikir suatu bidang ilmu mengungkapkan seluruh
dimensi manusia, tentu soal lain. Dari keragaman bidang akademis pun dari matematika hingga sastra, dari antropologi
sampai teknologi sudah pasti penciutan asumsi bukan seluruh fakta dimensi manusia. Manusia pasti homo oeconomicus, tetapi homo oeconomicus pastilah bukan keseluruhan manusia.

Yang menarik dari visi neoliberal adalah pengandaian manusia sebagai homo oeconomicus direntang luas untuk
diterapkan pada semua dimensi hidup manusia. Pada gilirannya, perspektif oeconomicus itu direntang untuk menjadi
prinsip pengorganisasian seluruh masyarakat. Inilah aspek yang mungkin paling tegas membedakan ekonomi neoliberal
dari ekonomi liberal klasik. Tak ada yang lebih eksplisit dalam proyek perentangan ini daripada Gary Becker dalam The
Economic Approach to Human Behavior (1976): pendekatan ekonomi menyediakan kerangka semesta untuk memahami semua tingkah laku manusia.

Bagaimana mungkin sebuah visi, yang karena tuntutan bidang ilmu berdiri di atas penciutan asumsi, menjadi dominan?
Tak ada teori yang berjalan sendiri.

Virtualisasi ekonomi

Dalam stagnasi ekonomi negara-negara maju pada dasawarsa 1970-an, dan dalam revolusi teknologi informasi sejak
awal dekade 1980-an, kecenderungan itu mengalami evolusi lanjut dan menghasilkan ciri utama neoliberalisme.
Perspektif oeconomicus bukan hanya direntang untuk diterapkan pada dimensi lain hidup manusia, bahkan dalam
perspektif oeconomicus sendiri berkembang hierarki prioritas: prioritas sektor finansial (financial capital) atas
sektor-sektor lain dalam ekonomi.

Hasilnya adalah revolusi produk finansial, seperti derivatif, sekuritas, dan semacamnya. Tren ini lalu mempertajam
pembedaan antara sektor virtual dan sektor riil dalam ekonomi, dengan prioritas yang pertama. Dalam bahasa sederhana, proses ekonomi bergerak dengan prioritas transaksi uang ketimbang produksi barang/jasa riil.

Ada anggapan, maraknya transaksi produk-produk finansial akan mengalir langsung ke investasi di sektor riil (dalam
bentuk pabrik atau sepatu), yang diharapkan menyediakan lapangan kerja dan mengurangi pengangguran. Ekonom
Gérard Duménil dan Dominique Lévy punya temuan penting dengan data statistik menawan. Dalam karya baru,
Capital Resurgent (2004), mereka menemukan tetesan itu amat minim, di AS maupun di Perancis. Simpulnya, finance
finances itself, but does not finance investment. Pokok ini sentral karena kritik atas neoliberalisme biasanya dianggap
sikap anti-investasi, antipertumbuhan, antiekonomi pasar, dan semacamnya.

Dalam fakta, visi neoliberal yang berdiri di atas asumsi tentang manusia yang sudah amat diciutkan itu tentu penuh
kontradiksi. Misalnya, bila dalam visi neoliberal tiap orang atau perusahaan bertanggung jawab atas diri sendiri,
bagaimana harus dijelaskan bailout banyak bank dan perusahaan dengan uang setiap orang melalui dana Bantuan
Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)? Itulah mengapa tak sedikit ahli menyimpulkan, neoliberalisme merupakan cara para
tuan besar modal merebut kembali kekuasaan, sesudah mereka terkekang dalam periode setelah PD II sampai
dasawarsa 1970-an.

Jadi, neoliberalisme baik atau buruk? Silakan menyimpulkan sendiri. Namun, untuk itu kita perlu berguru. Bulan Oktober 2005 terbit buku A Brief History of Neoliberalism karya David Harvey, mahaguru geografi dan ekonomi politik.

Buku serius tetapi ringan itu amat perlu dibaca presiden, wakil presiden, para pengambil kebijakan publik, pelaku bisnis, dan khalayak pembaca di Indonesia.

Seusai membaca buku itu, saya merasa Indonesia mirip negeri yatim piatu.





Tidak ada yang adil

24 05 2009

Ini bukan tentang syair lagunya Peter Pan. Ini tentang dagelan politik yang sedang dipentaskan di negri ini. Beberapa saat yang lalu, publik dihebohkan dengan langkah teranyar yang dilakukan oleh Capres incumbent Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah sebelumnya satu persatu partai papan tengah menyatakan diri menempel dengan ’segitiga biru’, ….. eh menjelang pengumuman siapa sang cawapres yang bakal diusung, tiba-tiba berembus kabar kalau Mas Bambang ini telah mengkhianati koalisi yang sedang dibangun. Alih-alih memilih salah satu tokoh parpol koalisi (Hidayat dari PKS, Hatta dari PAN, Muhaimin dari PKB), eh malah memilih tokoh lain, yakni Budiono, sang gubernur BI.

Lha ini belum seumur jagung, koalisi telah terancam bubar.

Entah apa yang ada di benak Mas Bambang sehingga sampai memilih nama Budiono. Berbagai spekulasi pun bermunculan. Mulai dari alasan karena diperlukan tokoh independen yang lebih memahami manajerial dan ekonomi agar pemerintahan yang ada lebih berjalan stabil. Mas Bambang mungkin ogah kecebur dua kali setelah sebelumnya sempat mereguk kenangan pahit koalisi bersama Aa Yusuf. Spekulasi yang lain berkata ini adalah hasil urun rembug dengan PDIP beberapa hari yang lalu. Sebagaimana yang kita ketahui, Budiono bagaimanapun tetap lekat sebagai kader PDIP. Keberadaannya berarti mewakili partai banteng bergincu putih itu.

Lain lagi pendapat pakar konspirasi…. Budiono bagian dari Mafia Barkeley, mafia yang getol memperjuangkan ekonomi neoliberal. Sehingga neeh…ada kemungkinan pencalonan Budiono merupakan pesanan dari pihak asing.
Atau bisa jadi juga….. Mas Bambang ini sengaja memilih Budiyono, supaya mendapatkan kemistri yang tepat… kan sama-sama nama belakang ”Yono”. Jadi klop! Yono berganda….

Apapun itu, bagi empat partai yang telah menyatakan koalisi dengan demokrat, tak ada satupun alasan yang bisa diterima. Empat partai, PKS, PAN, PKB, PPP dalam pertemuan yang digelar siang tadi menyatakan menolak. Bahkan mereka mengancam putus! Ouw ouw ouw ada apa gerangan mas Bambang? Dirimu laksana seorang lelaki yang berpoligami dengan empat istri…. namun engkau bersikeras memilih selingkuh dengan wanita idaman lain. Empat istri itu merasa dikhianati… dan dalam waktu bersamaan menggugat cerai!!

Semuanya memang baru sekedar ancaman. Nama Budiono pun baru sekedar wacana, setidaknya sampai tulisan ini dibuat. Namun bisa jadi, ancaman itu menjadi kenyataan. Pukul tujuh malam WIB, saat saya menulis tulisan ini, sedang digelar pertemuan partai-partai papan tengah di hotel Mikko, membahas langkah ’gugatan cerai’ yang mungkin akan dilayangkan oleh mereka. Lalu kalau memang jadi cerai, mau kemana mereka?
Salah satu alternatif yang mungkin akan ditempuh oleh para koalisor ini adalah membentuk kubu baru yang berjudul koalisi antar partai islam dan berbasis massa islam.

Hmmmm…..
Saya tidak akan mengkritisi masalah pilihan yang jatuh ke Budiyono ini….. kapan-kapan aja ngebahasnya… terlalu prematur.
Lebih menarik ketika mengamati sepak terjang yang justru dijalankan partai-partai Islam. Sejak awal, bahkan sebelum pemilu legislatif digelar PKS sudah berwacana PKS legislatifnya, SBY presidennya. Maka wajar, ketika hasil Quick count mulai stabil menempatkan demokrat di urutan pertama, PKSlah yang pertama menyatakan diri berkoalisi. Menyusul kemudian muker yang akhirnya menyarankan tiga nama kader PKS yang diancangkan sebagai cawapres mendampingi SBY. Tak jauh beda dengan PKB kubu Muhaimin yang tak lama juga segera merapat, dengan mengusung nama ketua umumnya sebagai cawapres. PPP sempat terpecah, namun pada akhirnya memutuskan lebih memilih SBY. Belakangan, PAN yang sempat kisruh kemudian mantap memilih membersamai SBY setelah sesepuh PAN Amien Rais pada akhirnya turun gunung.

Mengimbangi pilihan koalisi ke SBY, sebenarnya banyak tokoh umat dan berbagai ormas Islam yang lebih mengharapkan partai-partai islam itu bersatu sejak awal membentuk koalisi partai islam. Tak perlu menghinakan diri memelas-melas ke partai sekuler. Setidaknya, Pak Din Syamsuddin pernah menganjurkan koalisi tersebut. Menurut beliau jangan sampai partai Islam hanya jadi pelengkap penyerta, bahkan jadi pelengkap penderita……
Walaupun seruan itu tetap tak diindahkan.
Ah…… menyedihkan….

Saya jadi teringat dengan salah satu pesan kampanye salah satu kader parpol islam saat mengajak orang agar tidak golput….. ”Kalau kita umat islam tidak memilih partai islam, ntar yang menang adalah partai sekuler. Bayangkan bagaimana pemerintahan nanti akan menerapkan pemerintahan sekuler…..” Eh, kemudian setelah selesai pemilu, mereka malah menelan kembali ludahnya… toh mereka pada akhirnya sama saja….. malah memilih bergabung dengan partai sekuler…. lha apa bedanya… artinya mereka akan terlibat juga membentuk dan melanggengkan pemerintahan sekuler.

Alasan mewarnai? Pantaskah islam mewarnai sekularisme yang notabene sebuah bentuk kekufuran? Biar warnanya islam.. kan tubuhnya tetap sekuler. Tak layak yang haq bercampur dengan yang batil. Sebagaimana tak layak daging babi dikemas dalam kaleng bertuliskan daging ayam asli halal 100%.
Seharusnya sejak awal partai-partai Islam itu istiqomah. Mantap, kalaupun koalisi harus dengan sevisi islam. Kalaupun tak mencukupi untuk maju atau kalaupun kalah, lebih elegan tampil sebagai oposisi memuhasabahi pemerintahan yang sekuler tersebut dari lingkaran luar.

Jadi tak perlulah main ancam-ancam dulu. Langsung aja nyatakan talak tiga dengan partai sekuler!

Maka sobat, inilah dagelan politik ala machiavelis…. semuanya serba pragmatis. Kemarin kita lihat Mas Bambang masih bergandengan tangan dengan Aa Yusuf. Aa Yusuf tiba-tiba ingin terbang sendiri, di raihnya sayap Kang Anto. Jeng Wati awalnya tampak mesra dengan Om Bowo. Eh belakangan Jeng Wati mulai naksir dengan kegagahan Mas Bambang….. sementara partai-partai Islam celingak-celinguk nyari-nyari gandengan…

Begitulah….. di dalam politik versi machiavelis…. tak ada lawan abadi dan tak ada sahabat yang abadi….. yang ada hanyalah kepentingan abadi





Keuntungan Berternak DOMBA GARUT

24 05 2009

Seringkali masih banyak orang yang keliru ketika membedakan antara domba dan kambing. Uniknya lagi adalah lebih dikenal kelezatan sate kambing dibandingkan sate domba.

Apakah betul domba dan kambing itu sama? Atau keduanya memang jenis hewan ternak yang berbeda? Pada dasarnya domba dan kambing merupakan jenis hewan ternak pemakan rumput yang tergolong ruminansia kecil, keduanya pun populasinya hampir tersebar merata dan ada di seluruh dunia. Namun bila kita melihat visual fisiknya dengan cermat maka domba berbeda dengan kambing. Postur tubuh domba cenderung lebih bulat dibandingkan dengan kambing yang ramping.

Daun telinga kambing panjang dan terkulai. Bentuk bulu domba pun lebih ikal dan keriting sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bulu wool sedangkan lain halnya dengan kambing yang cenderung lurus.

Hewan ternak domba yang ada sekarang diduga merupakan hasil dometikasi manusia dari 3 jenis domba liar: Domba Mouflon dari Eropa Selatan dan Asia Kecil, Domba Argali dari Asia Tenggara serta Urial dari Asia. Domba-domba ini awalnya diburu secara liar sampai akhirnya diternakkan oleh manusia. Dibandingkan dengan sapi, babi, kuda dan kerbau sebagai sesama hewan ruminansia, hewan ternak domba lebih dahulu memiliki nilai komersial sejak abad 7000 SM. Bahkan di Indonesia keberadaan hewan ternak domba dapat dilihat pada relief Circa 800 SM pada Candi Borobudur. Olehkarenanya tidaklah heran bila jumlah populasi domba adalah jauh lebih banyak dibandingkan dengan kambing didunia. Data Food Agricultural Organization (FAO) tahun 2002, jumlah populasi domba dunia kurang lebih 1.034 milyar ekor sedangkan kambing hanya sekitar 743 juta. Populasi terbesar domba dan kambing dunia adalah di negara Tirai Bambu Cina, di mana negara kedua terbesar adalah Australia untuk domba dan India untuk kambing.

Sebagai bagian dari sektor usaha peternakan nasional, prosentase kebutuhan daging domba dan kambing masyarakat Indonesia adalah masih jauh di bawah sub sektor usaha peternakan lainnya seperti ayam/ unggas (56%), sapi (23%) serta babi (13%). Menurut data Ditjen. Peternakan –Deptan RI tahun 2005, konsumsi daging domba dan kambing di masyarakat memang masih sangat rendah yaitu hanya sekitar 5%. Namun bila melihat potensi kebutuhan daging hewan ternak ini yang pada tiap tahunnya kurang lebih sekitar 5,6 juta ekor untuk kebutuhan ibadah kurban saja, dan belum termasuk kebutuhan pasokan untuk aqiqah, industri restoran sampai dengan warung sate kaki lima yang membutuhkan 2 – 3 ekor tiap harinya, pertumbuhan populasi domba dan kambing adalah belum sebanding dengan angka permintaan yang terus meningkat. Potensi ini belum dihitung kebutuhan pasar di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura, serta kawasan Timur Tengah yang tiap tahunnya membutuhkan kurang lebih 9,3 juta ekor domba. Di mana kebutuhan pasokan daging domba untuk kawasan Timur Tengah sampai saat ini masih dipenuhi oleh Australia dan Selandia Baru. Miris memang, di mana Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi masyarakat muslim terbesar di dunia sebenarnya lebih memiliki peluang untuk itu.

Pertumbuhan populasi domba dan kambing di Indonesia adalah relatif kecil sedangkan permintaan terus meningkat seiring jumlah penduduk dan perbaikan pendapatan kesejahteraan masyarakat. Bukan mustahil suatu saat akan terjadi kelangkaan produksi daging domba dan kambing sehingga pelaksanaan ibadah kurban akan mengimpor dari Australia ataupun Selandia Baru. Di Indonesia, keberadaan populasi domba dan kambing hampir tersebar dengan merata di seluruh wilayah. Namun sayangnya pemeliharaan ternak domba dan kambing di negeri ini sebagian besar masih dalam skala kecil dan tradisional. Berbeda dengan Australia, pola peternakan intensif dengan dukungan teknologi telah menjadikan negara tersebut dapat menghasilkan produksi domba skala besar dan berkualitas. Bayangkan saja, total ekspor daging domba Australia ke negara Saudi Arabia pada tahun 2006 adalah setara dengan 3,6 juta ekor.

Populasi hewan ternak domba dan kambing terbesar pada akhir tahun 2006 ada di wilayah provinsi Jawa Barat yaitu kurang lebih 3,5 juta ekor atau sekitar 49% dari jumlah populasi nasional. Di provinsi ini bahkan terdapat jenis hewan ternak ruminansia kecil yang merupakan kekayaan plasma nutfah Indonesia serta menjadi ciri khas provinsi yang dikenal dengan julukan bumi parahyangan tersebut. Domba Garut, Ovies Aries, domba ini adalah hasil persilangan dari 3 rumpun bangsa domba: Merino -Australia, Kaapstad dari Afrika dan Jawa Ekor Gemuk di Indonesia. Domba Jawa Ekor Gemuk sudah ada sebelumnya sejak lama sebagai jenis domba lokal, Domba Merino dibawa oleh pedagang Belanda ke Indonesia sedangkan Domba Kaapstad didatangkan para pedagang Arab ke tanah Jawa sekitar abad ke-19.

Domba Garut adalah jenis domba tropis bersifat profilik yaitu dapat beranak lebih dari 2 (dua) ekor dalam 1 siklus kelahiran. Di mana dalam periode 1 tahun, Domba Garut dapat mengalami 2 siklus kelahiran. Domba ini memiliki berat badan rata-rata di atas domba lokal Indonesia lainnya. Domba jantan dapat memiliki berat sekitar 60 – 80 kg bahkan ada yang dapat mencapai lebih dari 100 kg. Sedangkan domba betina memiliki berat antara 30 – 50 kg. Ciri fisik Domba Garut jantan yaitu bertanduk, berleher besar dan kuat, dengan corak warna putih, hitam, cokelat atau campuran ketiganya. Ciri domba betina adalah dominan tidak bertanduk, kalaupun bertanduk namun kecil dengan corak warna yang serupa domba jantan. Domba Garut merupakan plasma nutfah terlangka di dunia karena postur hewan ternak ini nyaris menyerupai bison di USA. Populasi Domba Garut terbesar di Indonesia tentunya ada di wilayah provinsi Jawa Barat dengan lokasi daerah penyebaran antara lain: Garut, Majalengka, Kuningan, Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Bandung, Sumedang, Indramayu dan Purwakarta. Mungkin hampir sebagian orang lebih mengenal hewan ternak Domba Garut identik dengan domba aduan yang berlaga di arena adu ketangkasan.

Domba Garut adalah hewan ternak eksotis. Memanglah betul bila sampai saat ini di kalangan masyarakat provinsi Jawa Barat masih menggemari adu ketangkasan domba, akan tetapi perlu untuk diluruskan bahwa arena adu ketangkasan yang ada sekarang tidak memperbolehkan pertarungan 2 ekor domba jantan sampai titik darah penghabisan. Telah dilakukan perubahan peraturan oleh organisasi Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) yang saat ini dipimpin oleh Drs. H.A.M Sampurna, MM. selaku ketua umum dan Drs. H. Uu Rukmana selaku ketua wilayah provinsi Jawa Barat. Arena adu ketangkasan saat ini lebih menjadi arena seni
dan budaya yaitu tempat bertemunya silaturahmi antar peternak, penghobi, show room, transaksi bibit domba berkualitas serta objek wisata.

Beberapa nama seperti kang Ibing, dalang Asep Sunarya merupakan nama yang cukup dikenal sebagai penghobi dan pemilik Domba Garut berkualitas. Hobi memelihara ternak Domba Garut dijamin tidak akan kalah kepuasannya dengan memelihara jenis hewan lainnya seperti kucing, ikan dan sebagainya. Suatu kepuasan ketika tanduk Domba Garut jantan dapat terbentuk dan tumbuh maksimal ataupun dengan keindahan corak serta warna bulu yang dihasilkan. Sepatu boot, bertopi koboi, pakaian hitam adalah ciri penghobi ketika datang ke arena seni dan budaya adu ketangkasan. Dan jangan salah, harga 1 ekor ternak Domba Garut jantan berkualitas dikalangan penghobi dapat bernilai di atas 10 juta rupiah bahkan ada yang ratusan juta rupiah.

Namun yang patut dikhawatirkan pada kondisi saat ini adalah populasi Domba Garut berkualitas yang kian menyusut dan dapat terancam punah di mana bertolak belakang dengan sifat profilik yang dimilikinya. Kurangnya perhatian serius terhadap sektor usaha pembibitan menjadikan populasi Domba Garut unggulan agak sukar ditemukan. Dan ini pula yang menjadikan hewan ternak Domba Garut untuk kebutuhan ibadah kurban kian mahal harganya. Seperti yang diutarakan oleh Drh. Abdul Jabbar Zulkifli selaku Sekretaris Jenderal Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia HPDKI) dalam diskusinya dengan penulis belum lama ini.

Kondisi tersebut tentunya sangat disayangkan, terlebih bila kita tahu potensi ekonomis hewan ternak Domba Garut yang tidak hanya identik dengan domba aduan, kualitas daging Domba Garut juga memiliki nilai gizi yang cukup baik dibandingkan dengan kambing untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Bahkan tidak hanya dimanfaatkan dagingnya saja, kulit Domba Garut dapat dijadikan bahan baku untuk pembuatan jaket berkualitas. Data tahun 2005 yang didapat dari website kabupaten Garut, industri jaket berbahan baku kulit Domba Garut dapat menyerap 2.656 tenaga kerja dengan nilai ekspor Rp. 84,7 milyar ke berbagai negara tujuan seperti Singapura, Malaysia, Taiwan dan Australia. Kotoran ternak Domba Garut pun dapat memberikan keuntungan dan nilai manfaat bila diolah dengan baik yaitu sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, kebutuhan unsur hara pada tanaman dapat terpenuhi dengan pemberian pupuk organik hasil fermentasi berbahan baku kotoran domba yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan hasil produksi pertanian. Seorang peneliti utama lulusan Jepang dari Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika – Bogor, Dr. Ir. Mesak Tombe, saat ini berhasil menemukan teknologi yang sudah mendapatkan hak paten untuk meningkatkan kualitas pupuk organik yang dihasilkan dari kotoran ternak, teknologi tersebut dinamakan Bio Triba. Dikemas dalam bentuk formula cair dengan kandungan mikroorganisme B. Pantotkenticus strain J2 dan T. Lactae strain TB1.

Teknologi yang ditemukan Dr. Ir. Mesak Tombe sangat membantu dalam proses pematangan kotoran ternak menjadi pupuk organik antara periode 1 – 2 minggu. Tidak hanya itu, teknologi ini juga dapat diaplikasikan pada pengolahan limbah organik pasar dan rumah tangga. Kelebihan lain teknologi ini adalah dapat berperan pula sebagai bio fungisida untuk pengendalian penyakit pada tanaman. Adalah tepat bila sektor usaha peternakan dan pertanian memang harus saling bersinergi. Terlebih lagi saat ini petani dalam posisi sulit diantara kenaikan biaya produksi sebagai akibat harga pupuk yang terus melambung, di sisi lain petani tidak bisa seenaknya menaikkan harga jual sehingga perolehan pendapatan semakin menipis. Terbesit gagasan pula untuk mengkombinasikan ternak Domba Garut dengan sektor perikanan air tawar. Design kandang ternak domba dibuat panggung di atas kolam ikan.

Secara segmentasi pasar lokal, Domba Garut memiliki potensi pasar yang multi user. Seperti yang disampaikan oleh Agus Ramada selaku Direktur Utama Eka Agro Rama sebagai perusahaan agri bisnis yang concern dalam usaha ternak Domba Garut dan pertanian organik. Dan ini yang menjadikan hewan ternak Domba Garut layak untuk dikembangkan sebagai pilihan dalam sektor usaha peternakan. Potensi pasar terbesar pertama adalah hewan ternak Domba Garut untuk memenuhi kebutuhan tahunan ibadah kurban. Kemudian menyusul kebutuhan konsumsi daging harian baik itu rumah tangga, restoran dan warung sate. Selanjutnya adalah kebutuhan aqiqah, dan terakhir adalah penghobi yang selalu mencari bibit Domba Garut jantan unggulan.

Penjelasan Dr. Ismeth Inounu, peneliti utama bidang pemuliaan dan genetika dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak – Deptan RI), yaitu pada kunjungannya ke lokasi peternakan Domba Garut Eka Agro Rama, kabupaten Bandung, provinsi Jawa Barat bulan April lalu, pemerintah saat ini memberikan perhatian serius untuk pengembangan sektor usaha pembibitan dan perbanyakan hewan ternak domba serta kambing antara lain Domba Garut.

Tidak hanya program pemuliaan galur murni untuk mengembalikan kualitas terbaik hewan ternak Domba Garut, akan tetapi program pengembangan domba komposit untuk dapat menghasilkan keturunan ataupun bibitunggulan baru juga sedang giat dilakukan. Berbagaimacam penemuan teknologi terkait reproduksi ternak domba terus dikembangkan untuk mempermudah upaya produksi dan perbanyakan domba berkualitas, sebagai contoh teknologi laserpuntur dan suntik hormonal yang akan sangat bermanfaat untuk sinkronisasi birahi dan perkawinan massal. Keberhasilan perkawinan domba lokal Sumatera dengan domba St. Croix dari Virgins Islands dan domba Barbados, kemudian Domba Garut dengan domba St. Croix serta Domba Moulton dari Prancis, adalah program pengembangan domba komposit yang berhasil dilakukan oleh Puslitbangnak – Deptan RI dari aplikasi penemuan teknologi tersebut.

Tidak hanya sebatas itu, di lokasi peternakan Eka Agro Rama juga telah berhasil program pengembangan domba komposit berupa perkawinan Domba Garut betina dengan Domba Suffolk pejantan dari Inggris, kemudian Domba Garut betina dengan pejantan Merino – Australia yang telah menghasilkan kualitas anakan dengan harapan akan jauh lebih baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumsi daging. Adalah Alam Yanuardi selaku Direktur Operasional yang dengan tangan dinginnya berhasil menjalankan program pengembangan domba komposit tersebut.

Dalam pengembangan usaha ternak Domba Garut maka Eka Agro Rama tidaklah bergerak seorang diri. Terlebih dengan potensi menembus peluang pasar lokal dan dunia yang masih cukup besar. Dirintis pula upaya kerjasama mulai dari sektor hulu sampai dengan sektor hilir untuk dapat mencapai tujuan usaha ternak yang diinginkan. Salah satu rekanan kerjasama yang senantiasa membantu Eka Agro Rama dalam pengembangan usahanya antara lain adalah Kampoeng Ternak – Dompet Dhua’fa Republika. Eksistensi Kampoeng Ternak – Dompet Dhua’fa Republika patut diacungi jempol dalam pengembangan sub sektor usaha peternakan domba kambing di Indonesia. Program Tebar Hewan Kurban dan 1000 Aqiqah yang sedang dijalankan oleh Kampoeng Ternak tidak hanya bertujuan untuk memajukan usaha ternak domba dan kambing di Indonesia, akan tetapi bertujuan pula untuk membantu masyarakat yang kurang mampu dalam kebutuhan konsumsi daging domba. Seperti yang dijelaskan Purnomo, SPt selaku Direktur Kampoeng Ternak – Dompet Dhua’fa Republika. Eka Agro Rama sendiri saat ini lebih terfokus bergerak dalam sektor usaha pembibitan dan perbanyakan Domba Garut. Penyediaan Domba Garut berkualitas untuk kebutuhan kurban, aqiqah, restoran sampai dengan warung sate kaki lima adalah menjadi impian Kami, ucap Agus Ramada. Salam Peternak Domba Sehat!

sumber : http://www.garutleather.com





Parpol berazas ISLAM atau PANCASILA

24 05 2009

Selesainya Pemilu legislatif dan kemudia kita dalam proses pemilu presiden, kita semua tentu mengenal partai-partai yang mungkin kita pilih bahkan kita tidak pilihpun tau, baik itu partia berhaluan islam, nasional maupun kristen, bahkan ada partai kedaerah seperti PA dan PS di provinsi NAD.

masa pemilu legislatif kita melihat betapa idealisnya partai potilik sehingga dengan berbagai gaya baik parpolnya maupun calegnya mengusung caleg dan bendera parpol dengan penuh percaya diri akan menang dan duduk digedung MPR-DPR RI. namun ja

ti diri dan idealisme partai hilang ketika perhitungan suara berkata partai a b dan c lah yang menjadi pemenang pemilu legislatif, maka dengan tergesa-gesa dan penuh arogansi segera membentuk koalisi besar legislatif.
seiring berjalann

ya waktu menjelang Pilpres maka beramai-ramai partai-partai berkoalisi ke 3 parpol urutan teratas yakni partai demokart, PDIP dan Golkar, egoisme dan arogansi pribadi kembali dipertontontan dalam koalisi ini,
gagalanya golkar berkolasi dengan demokrat merupakan egoisme seorang JK dan SBY yang satu sama lain tidak arif untuk saling mengalah, keduanya satu sama lain ingin menjadi orang nomor satu di Indonesia, entah di pandangan sang maha pencipta apakah meraka menjadi orang nosatu atau tidak.

mencermati arah koalisi yang terjadi, saya berasumsi bahwa pada dasarnya partai yang ada diIndonesia adalah

1. hanya ada 2 partai ya itu (Demokrat, Golkar dan PDIP)

2. sesungguhnya tidak ada partai islam yang ada mencari keuntungan sendiri

untuk itu saya menyarankan dari pada cape cape memilih partai lain yang akhirnya berkoalisi dengan ketiga partai diatas lebih baik langsung saja memilih induk nya bukan? jadi partai sisahnya hanyalah spionase dari partai partai tersebut

inti dari tulisan saya yang ingin saya sampaikan sesungguhnya tidak ada partai yang beasas selain pancasila, walau dibergemar gemor mengatakan partai islam partai da;wah tetap saja pancasila yang menjadi landasan utama dari patai itu, untuk umat jangalah keliru tidak ada satupun partai yang mau berjihad demi tegaknya dinul islam, yang ada hanya memanfaatkan asas supaya kalian memilihnya…

salam

A. Pakusarakan